Pages

Labels

Sabtu, 27 Februari 2010

>the scout promise and law

>Salam Pramuka
Beginilah isinya.

All members of the Scout Movement are required to adhere to a Scout Promise and a Law reflecting, in language appropriate to the culture and civilization of each National Scout Organization and approved by the World Organization, the principles of Duty to God, Duty to others and Duty to self, and inspired by the Promise and Law conceived by the Founder of the Scout Movement in the following terms:

The Scout Promise
On my honour I promise that I will do my best
1. To do my duty to God and the King (or to God and my Country);
2. To help other people at all times;
3. To obey the Scout Law.

The Scout Law
1. A Scout’s honour is to be trusted.
2. A Scout is loyal.
3. A Scout’s duty is to be useful and to help others.
4. A Scout is a friend to all and a brother to every other Scout.
5. A Scout is courteous.
6. A Scout is a friend to animals.
7. A Scout obeys orders of his parents, Patrol Leader or Scoutmaster without question.
8. A Scout smiles and whistles under all difficulties.
9. A Scout is thrifty.
10. A Scout is clean in thought, word and deed.

Salam pramuka

Sumber :
- http://www.scout.org

>sejarah singkat bendera merah putih

>Salam Pramuka
Bendera merah putih yang sejak tanggal 18 Agustus 1945 sudah diresmikan sebagai bendera kebangsaan merupakan bendera pusaka. Menurut saya tidak banyak orang yang tahu perkembangan dan sejarah bendera merah putih. Untuk menepis hal tersebut, saya mempublikasikan artikel ini yang saya dapatkan dari salah satu catatan kecil saya yang kebetulan masih tersisa. Akhir kata semoga artikel ini bisa membantu. Terimakasih.

Penggunaan dan arti warna Merah Putih di bumi Indonesia
Dalam sejarah Indonesia terbukti, bahwa Bendera Merah Putih dikibarkan pada tahun 1292 oleh tentara Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Kertanegara dari Singosari (1222-1292). Sejarah itu disebut dalam tulisan bahwa Jawa kuno yang memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan R. Wijaya.
Prapanca di dalam buku karangannya Negarakertagama mencerirakan tentang digunakannya warna Merah Putih dalam upacara hari kebesaran raja pada waktu pemerintahan Hayam Wuruk yang bertahta di kerajaan Majapahit tahun 1350-1389 M. Menurutnya, gambar-gambar yang dilukiskan pada kereta-kereta raja-raja yang menghadiri hari kebesaran itu bermacam-macam antara lain kereta raja puteri Lasem dihiasi dengan gambar buah meja yang berwarna merah. Atas dasar uraian itu, bahwa dalam kerajaan Majapahit warna merah dan putih merupakan warna yang dimuliakan.
Dalam suatu kitab tembo alam Minangkabau yang disalin pada tahun 1840 dari kitab yang lebih tua terdapat ambar bendera alam Minangkabau, berwarna Merah Putih Hitam. Bendera ini merupakan pusaka peninggalan jaman kerajaan Melayu-Minangkabau dalam abad ke 14, ketika Maharaja Adityawarman memerintah (1340-1347).
Warna Merah = warna hulubalang (yang menjalankan perintah)
Warna Putih = warna agama (alim ulama)
Warna Hitam = warna adat Minangkabau (penghulu adat)
Warna merah putih dikenal pula dengan sebutan warna Gula Kelapa. Warna Merah Putih disebut Gula Kepala tidak berarti “Merah” lambang gula dan “Putih” lambang buah nyiur yang telah dikupas. Di Kraton Solo terdapat pusaka berbentuk bendera Merah Putih peninggalan Kyai Ageng Tarub, putra Raden Wijaya, yang menurunkan raja-raja Jawa.
Dalam babat tanah Jawa yang bernama babab Mentawis (Jilid II hal 123) disebutkan bahwa Ketika Sultan Ageng berperang melawan negri Pati. Tentaranya bernaung di bawah bendera Merah Putih “Gula Kelapa”. Sultan Ageng memerintah tahun 1613-1645.
Juga di bagian lain dari kepulauan Indonesia terdapat bendera yang berwarna Merah Putih, misalnya di Aceh, Palembang, Maluku dan sebagainya meskipun sering dicampuri gambar-gambar lain.
Pada umumnya warna Merah Putih merupakan lambang keberanian, kewiraan sedangkan warna Putih merupakan lambang kesucian.

Merah Putih dalam Abad Ke-20
Bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kali dalam abad XX sebagai lambang kemerdekaan ialah di benua Eropa. Pada tahun 1922 Perhimpunan Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di negeri Belanda dengan kepala banteng ditengah-tengahnya.
Tujuan perhimpunan Indonesia Merdeka semboyan itu juga digunakan untuk nama majalah yang diterbitkan.
Pada tahun 1924 Perhimpunan Indonesia mengeluarkan buku peringatan 1908-1923 untuk memperingati hidup perkumpulan itu selama 15 tahun di Eropa. Kulit buku peringatan itu bergambar bendera Merah Putih kepala banteng.
Dalam tahun 1927 lahirlah di kota Bandung Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mempunyai tujuan Indonesia Merdeka. PNI mengibarkan bendera Merah Putih kepala banteng.
Pada tanggal 28 Oktober 1928 berkibarlah untuk pertama kalinya bendera Merah Putih sebagai bandera kebangsaan yaitu dalam Konggers Indonesia Muda di Jakarta. Sejak itu berkibarlah bendera kebangsaan Merah Putih di seluruh kepulauan Indonesia.

Merah Putih setelah Indonesia Merdeka
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta bertempat di Pegangsaan Timur 56 (JL.Proklamasi, sekarang) Jakarta, atas nama bangsa Indonesia. Sesaat kemudian bendera kebangsaan Merah Putih dikibarkan di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Bendera Merah Putih berkibar ntuk pertama kalinya di bumi Indonesia Merdeka.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1945 mengadakan siding yang pertama dan menetapkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).
Dalam UUD 1945, Bab I, pasal I, ditetapkan bahwa Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Dalam UUD 1945 pasal 35 ditetapkan pula bahwa bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih. Dengan demikian itu, sejak ditetapkannya UUD 1945 , Sang Merah Putih merupakan bendera kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan ditetapkannya UUD 1945 dan bendera kebangsaan Sang Merah Putih, maka serentak seluruh rakyat Indonesia dan pemuda Indonesia, menegakkan, mengibarkan dan mempertahankan Sang Merah Putih di bumi Indonesia. Pertempuran-pertempuran dengan serdadu kolonial Belanda yang didukung oleh tentara sekutu berkobar di seluruh Indonesia. Ribuan rakyat dan pemuda Indonesia gugur sebagai pahlawan bangsa mempertahankan kemerdekaan Sang Merah Putih. Karena pengorbanan mereka kini Sang Merah Putih tegak berkibar di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berlandaskan Pancasila.
Sang Merah Putih dikibarkan pada Hari Proklamasi tanggal 17 Agustus 45 di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta disebut Bendera Pusaka. Bendera Pusaka itu selalu dikibarkan di tiang yang tingginya 17 m di depan Istana Merdeka Jakarta pada tiap perayaan peringatan Hari Prokalamasi Kemerdekaan.
Mulai tahun 1969 Bendera Pusaka itu tidak lagi dapat dikibarkan karena sudah tua. Sebagai gantinya dikibarkan duplikatnya yang dibuat dari sutera alam Indonesia.
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, Bendera Pusaka tidak pernah jatuh ke tangan musuh, meskipun tentara kolonial Belanda menduduki Ibukota Negara Republik Indonesia.

Salam pramuka

Sumber :
- Catatan Rizqan

Jumat, 26 Februari 2010

>sekilas riwayat ibu kepanduan dunia

>Salam Pramuka
Tentu kita sudah tahu bahwa Robert Stephenson Smyth Baden-Powell atau lebih dikenal dengan Lord Robert Baden-Powell adalah Bapak Pandu Dunia. Namun, selama ini saya pribadi masih belum tahu apakah ada Ibu Pandu Dunia. Setelah beberapa waktu lalu saya melacak hal tersebut. Ternyata saya temukan hal tersebut. Awalnya saya mendunga adik perempuan Baden-Powell (Agnes) lah yang menjadi Ibu Pandu Dunia, ternyata dugaan saya salah. Nah... untuk itu saya publikasikan artikel tersebut. Semoga ini bisa membantu rekan-rekan semua. Terimakasih.

Lebih dari seabad yang lalu, tepatnya 1 Agustus 1907, eksperimen Baden-Powell bersama 20 orang anak muda berkemah di Kepulauan Brownsea, Inggris, menjadi tonggak sejarah cikal bakal gerakan kepanduan.
Perkemahan yang diisi berbagai kegiatan di alam terbuka sangat menarik kaum muda saat itu. Beruntunglah Baden-Powell saat awal-awal berdiri dan mengembangkan gerakan kepanduan mendapatkan sokongan penuh dari orang-orang terdekatnya. Sebut saja adik perempuannya, Agnes Smyth Baden-Powell, yang sangat berjasa mengembangkan gerakan kepanduan putri (Girl Guides). Lewat kerja keras Agnes dalam mengembangkan gerakan kepanduan putri, sampai April 1910 saja, sudah 6.000 remaja putri di Inggris yang tercatat menjadi anggota Girl Guides.
Selain Agnes, orang yang dengan setia mengembangkan gerakan kepanduan ke seluruh dunia adalah Olave Baden-Powell atau lebih dikenal dengan sebutan Lady Baden-Powell yang tak lain adalah istri Lord Baden-Powell.
Olave terlahir dengan nama Olave St. Clair Soames, 22 Februari 1889, di Chesterfield, Derbyshire, Inggris. Olave pertama kali bertemu dengan Robert Baden-Powell, Januari 1908 di atas kapal penumpang Arcadia dalam perjalanan ke New York saat Baden-Powell memulai lawatan kepanduan dunia. Walau pertautan usia yang cukup jauh (Olave 23 tahun, Baden-Powell 55 tahun) setelah beberapa tahun menjalani hubungan, mereka akhirnya menikah 30 Oktober 1912. Pernikahan ini sempat menjadi sensasi internasional. Maklum, saat itu Baden-Powell merupakan tokoh yang sangat populer dan menjadi panutan. Hal itu juga menimbulkan kegelisahan di kalangan 100.000 anggota kepanduan putra. Mereka berspekulasi pernikahan ini akan membuat Robert Baden-Powell berhenti menjadi pemimpin pandu dunia yang akhirnya menghambat perkembangan gerakan kepanduan.
Namun, spekulasi tersebut tak terbukti. Olave yang dinikahi Baden-Powell ternyata sangat mendukung suaminya mengembangkan gerakan kepanduan. Bahkan Olave turut berkecimpung langsung sehingga gerakan kepanduan tumbuh pesat menjadi kegiatan yang digemari kaum muda di seluruh dunia. Visinya terhadap organisasi ini membuat gerakan kepanduan putri berkembang menjadi organisasi khusus putri dan wanita terbesar sepanjang sejarah. Karena hal itu pula, kalangan kepanduan sepakat menyebutnya “Mother of Millions”.
Olave mulai tertarik dan berkiprah di dunia kepanduan pada tahun 1914 atau 2 tahun setelah menikah dengan Baden-Powell. Pada tahun 1917 Olave dipercaya menggantikan posisi Agnes Baden-Powell sebagai Presiden Kepanduan Putri Inggris. Pada tahun 1918, Olave mendapatkan penghargaan gold Silver Fish, penghargaan tertinggi kepanduan putri Inggris dan hanya baru 2 kali diberikan (yang kedua adalah Betty Clay pada tahun 1995). Kemudian, pada tahun 1930, Olave diangkat menjadi pemimpin kepanduan putri dunia.
Sepanjang hayatnya, ia telah melakukan perjalanan lebih dari setengah juta mil, mengerahkan segala kemampuannya demi kemajuan gerakan kepanduan. Mungkin dialah salah seorang wanita yang paling sering melakukan perjalanan di dunia ini. Bayangkan saja, kurang lebih 111 negara telah ia kunjungi. Saat menginjak usia 80 tahun pun (1969), ia masih aktif berkunjung ke berbagai negara. Namun, perjuangan gigihnya ini harus berakhir setelah pada tahun 1970 karena dokter mendiagnosisnya menderita diabetes akut dan harus mengakhiri petualangannya. Olave tutup usia 25 Juni 1977 di Bramley Surrey Inggris pada usia 88 tahun atau 36 tahun setelah meninggalnya Robert Baden-Powell (8 Januari 1941) di Nyeri, Kenya.

Biodata singkat
Nama : Olave Santa Clair Soames
Suami : Robert Stephenson Smyth Baden-Powell
Tempat Lahir : Chesterfield, Derbyshire, Inggris
Tanggal Lahir : 22 Februari 1889
Menikah : 30 Oktober 1912
Meninggal : Bramley Surrey, Inggris, 25 Juni 1977

Salam pramuka

Sumber :
- Pikiran Rakyat (28/03/2008)

>meluruskan sejarah baden-powell di Indonesia

>Salam Pramuka

Tanggal 22 Februari merupakan Hari Baden-Powell (Founder’s Day). Seluruh anggota Pandu Dunia dan Pramuka merayakannya. Nah... untuk mengenang usaha beliau tersebut serta sebagai penghargaan tertinggi yang saya berikan untuk beliau saya coba mempublikasikan artikel ini. Meskipun terkesan agak terlambat, namun tidak melunturkan semangat saya untuk mempublikasikan artikel ini. Akhir kata, semoga ini bisa membantu kita semua untuk “meluruskan sejarah.” Begitulah kalimat yang saya ingat dari salah seorang sejarahwan yang pernah saya dengar. Karena menurut beliau sejarah di Indonesia ini banyak yang keliru dan perlu dibuktikan kebenarannya. Terimakasih.
Berbagai data tentang kedatangan Baden-Powell pernah diungkapkan dalam buku Patah Tumbuh Hilang Berganti – 75 Tahun Kepanduan dan Kepramukaan yang diterbitkan oleh Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka pada 1987. Di halaman 25 buku tersebut terdapat subjudul “Peristiwa kedatangan Baden Powell dan Jambore Dunia”.
Pada buku tersebut dituliskan antara lain, “Suatu peristiwa yang tidak mudah dilupakan adalah kedatangan Lord Baden Powell of Gilwell dan Lady Baden Powell di Indonesia, pada tanggal 3 Desember 1934, dalam rangka kunjungan keliling ke beberapa negara, waktu kembali dari Jambore di Australia. Baden Powell melihat keadaan dan perkembangan organisasi kepanduan di Indonesia, yang biarpun pada waktu itu Indonesia dijajah oleh Belanda, namun perkumpulan kepanduannya berkembang sangat pesat dan menggembirakan.”
Pada alinea berikutnya dituliskan, “Penerimaan dan acara kunjungan Baden Powell itu diatur sendiri oleh NIPV. Pandu-pandu Indonesia hendak ikut serta menyambut kedatangan Baden Powell, tetapi tidak diperkenankan oleh pimpinan NIPV. Hal ini mengakibatkan bertambah besarnya ketegangan hubungan kepanduan nasional Indonesia dan NIPV.”
Data tersebut telah berulang kali saya baca, tetapi hanya sebatas itu saja. Apalagi data dari buku itu telah sering pula dijadikan acuan dalam berbagai penerbitan Kwarnas. Itulah sebabnya, pada awalnya saya tak begitu menaruh perhatian pada keterangan itu. Tapi segalanya berubah tanpa disengaja.
Penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan kepustakaan terhadap bundel fotokopi majalah kepanduan Het Padvindersblad, majalah berbahasa Belanda yang merupakan majalah resmi Nederlandsch-Indische Padvinders Vereeniging, organisasi kepanduan Hindia-Belanda. Juga terhadap bundel fotokopi majalah Pandoe, majalah berbahasa Melayu-Indonesia (bahasa Indonesia ‘tempo doeloe’) yang merupakan majalah resmi Kepandoean Bangsa Indonesia. Bundel-bundel fotokopi dari majalah-majalah tahun 1930-an itu sebenarnya telah cukup lama disimpan di Kwarnas, tetapi kurang diperhatikan.
Sejumlah buku kepanduan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia juga ditelusur. Dan hasilnya, ternyata data yang termuat dalam buku Patah Tumbuh Hilang Berganti – 75 Tahun Kepanduan dan Kepramukaan banyak yang kurang akurat. Nama Bapak Pandu Sedunia ditulis Baden Powell, padahal seharusnya Baden-Powell dengan garis sambung.
Lalu tanggal kedatangan Baden-Powell ke Indonesia yang ketika itu masih berada dalam jajahan Belanda dan dinamakan Hindia-Belanda (Nederlands Indie/Dutch East Indies) bukan 3 Desember 1934 melainkan 4 Desember 1934. Baden-Powell juga bukan datang ke Indonesia, waktu kembali dari Australia. Justru Baden-Powell beserta istri dan dua anak perempuannya ke Indonesia terlebih dulu, baru ke Australia untuk menghadiri jambore di ”Negeri Kanguru” itu.
Kurang tepat pula bila dikatakan tak ada pandu-pandu Indonesia yang ikut menyambut Baden-Powell dan keluarganya. Kenyataannya, bahkan tarian Jawa dan Baduy dari Banten, ikut ditampilkan dalam upacara menyambut kedatangan Bapak Pandu Sedunia. Baden-Powell juga mendapat gong berukir, sementaranya istrinya, Lady Olave Baden-Powell, mendapat piala perak, sebagai hadiah kenang-kenangan dari para pandu di Hindia-Belanda.
Hasil penelitian tersebut kemudian ditampilkan dalam buku berjudul B-P & I (Baden-Powell & Indonesia) dengan subjudul “Melacak sejarah kedatangan Baden-Powell ke Indonesia” setebal 89 halaman. Buku itu kemudian diterbitkan secara terbatas untuk memperingati Hari Baden-Powell/Founder’s Day pada 22 Februari 2008. Buku tersebut telah dibagikan kepada sejumlah tokoh Gerakan Pramuka seusai acara peringatan Hari Baden-Powell di Cibubur, Jakarta Timur, Jumat sore. Di antaranya kepada Wakil Ketua Kwarnas, Kak Amoroso Katamsi, lalu kepada Sekretaris Jenderal Kwarnas, Kak Joedyaningsih, dan Kepala Lembaga Pendidikan Kader Nasional Gerakan Pramuka, Kak Djoko Mursito.
Inilah bingkisan kecil yang Kak Berthold Sinaulan persembahkan di Hari Baden-Powell tahun 2008.

Salam pramuka

Sumber :
- Catatan Kak Berthold Sinaulan (Annas Gerakan Pramuka/Wartawan Suara Pembaruan)

>sekilas riwayat bapak pramuka

>Beliau adalah seorang Raja Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau juga Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1961 - 1974)
Pada umur 4 tahun, beliau tinggal pisah dari keluarganya. Beliau dititipkan kepada keluarga Mulder, orang Belanda yang tinggal di Gondokusuman untuk mendapat pendidikan yang penuh disiplin dan gaya hidup yang sederhana. Beliau memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Rijkuniversiteit Leiden, Belanda (”Sultan Henkie”) dan mengambil jurusan Indologi (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi. Mendapatkan pendidikan ala Barat sejak usia 4 tahun (taman kanak-kanak sampai kuliah) membuat Beliau memiliki wawasan yang luas. Hal itu pun tak lantas membuat luntur paham kebangsaannya. Sebaliknya, wawasan kebangsaannya tetap kuat seperti tergambar dalam isi pidato penobatannya sebagai Sri Sultan. Ada dua hal penting yang menunjukkan sikap tersebut. Pertama, kalimat yang berbunyi, "Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa." Kedua, ucapannya yang berisi janji perjuangan, "Izinkanlah saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji, semoga saya dapat bekerja untuk memenuhi kepentingan nusa dan bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya."
Beliau dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panotogomo Kholifatulloh Ingkang Kaping Songo” atau lebih dikenal dengan singkatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat “Istimewa”. Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin.
Presiden saat itu mengungkapkan, merujuk Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana, kepanduan yang ada harus diperbarui, metode dan aktivitas pendidikannya harus diganti. Seluruh organisasi kepanduan yang ada harus dilebur menjadi satu yang disebut Gerakan Pramuka.
Beliau merupakan salah seorang yang ditunjuk Presiden Republik Indonesia saat itu, Soekarno menjadi Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961.
Setelah itu, masih pada bulan yang sama, Beliau juga terlibat dalam kepanitiaan pembentukan Gerakan Pramuka bersama Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia ini mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.
Ketika itu, selain terpilih menjadi Wakil Ketua I Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas), Beliau juga terpilih menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama. Selama kepemimpinannya, Gerakan Pramuka berkembang dengan pesat. Ide-ide brilian tidak semata ia dedikasikan untuk Gerakan Pramuka, tetapi untuk pengembangan gerakan kepanduan di dunia.
Sebagai contoh, dalam konferensi kepanduan sedunia ke-23 di Tokyo 1971, ia menyampaikan idenya dalam pidato yang berjudul "Scouts Action for Community Development". Gagasannya mengenai paradigma pembinaan dan pengembangan kepanduan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat bagi negara berkembang mendapat sambutan hangat dari seluruh peserta. Kalangan kepanduan dunia pun menilainya sebagai the new trends in scouting.
Terobosan lain yang dilakukan Beliau ialah dengan mendirikan Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada). Hipprada merupakan tempat berhimpun anggota senior Pramuka dengan tujuan terus memupuk dan menumbuhkembangkan semangat dan jiwa kepanduan sepanjang masa.
Wajar, World Organization of Scout Movement (WOSM) menganugerahkan Bronze Wolf Award kepada Beliau atas dedikasinya yang luar biasa bagi pengembangan gerakan kepanduan pada tahun 1973. Bronze Wolf Award merupakan satu-satunya penghargaan tertinggi dalam gerakan kepanduan dunia, dan hanya orang-orang tertentu yang berhak mendapatkannya.
Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.
Minggu malam pada 1 Oktober 1988 ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri.

Biodata singkat
Nama : GRM Dorojatun (Sri Sultan Hamengkubuwono IX)
Tempat Lahir : Ngampilan Ngasem, Yogyakarta
Hari dan Tanggal Lahir : Sabtu, 12 April 1912
Meninggal : Washington DC, AS, 1 Oktober 1988
Orangtua : Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (ayah) dan Raden Ajeng Kustilah (ibu)

Salam pramuka

Sumber :
- Pikiran Rakyat (04/05/2007)
- http://www.tokohindonesia.com

Senin, 22 Februari 2010

>format daftar induk anggota

>Salam Pramuka

Setelah sekian lama saya diminta rekan-rekan untuk mempublis format daftar induk anggota Gerakan Pramuka. Akhirnya bisa juga terlaksana. Karena berbagai kesibukan juga tentunya. Oke lah... mudah-mudahan contoh format daftar induk ini bisa membantu kakak-kakak yang membutuhkan. Terimakasih.

KOP ORGANISASI

DAFTAR INDUK ANGGOTA GERAKAN PRAMUKA

1)

2)

3)

4)

5)

6)

7)

8)

9)

10)























…………………………………
Pembina …………



(…………………………..)

Catatan :
1) nomor
2) NTA
3) nama lengkap
4) tempat dan tanggal lahir
5) agama
6) nama orang tua/wali
7) pekerjaan orang tua/wali
8) alamat
9) tanggal masuk pramuka
10) keterangan

Format Daftar Induk Anggota Gerakan Pramuka : Download

Salam pramuka

Sumber :
- KepKwarnas No. 044 Tahun 1998

Kamis, 11 Februari 2010

>peraturan baris-berbaris

>Salam Pramuka

Kata rekan saya dulu, ketika kami berbincang masalah peraturan baris berbaris, dia berkata, “sebenarnya banyak versi peraturan baris-berbaris, tergantung kita mengambil darimana”. Teringat hal itu lantas saya acak-acak kembali komputer saya yang sudah hamper kadaluarsa oleh perkembangan waktu, dan saya menemukan artikel ini. Saya lupa dapat dari mana, yang jelas semoga ini bisa bermanfaat untuk semua.
Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di lingkungan Pramuka ada dua macam yakni Baris berbaris menggunakan tongkat dan tanpa tongkat. Untuk baris berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara tersendiri di lingkungan Pramuka. Adapun baris berbaris tanpa menggunakan tongkat mengikuti tata cara yang telah diatur dalam Peraturan Baris Berbaris milik TNI/POLRI.

Baris Berbaris
Pengertian
Baris berbaris adalah suatu ujud latuhan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.

Maksud dan tujuan
  • Guna menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa disiplin dan rasa tanggung jawab.
  • Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
  • Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.
  • Yang dimaksud rasa disiplin adalah mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
  • Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.

Aba-aba
Pengertian
Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.

Macam aba-aba
  • Aba-aba petunjuk
  • Aba-aba peringatan
  • Aba-aba pelaksanaan

Aba-aba petunjuk
Aba-aba petunjuk dipergunakan hanya jika perlu untuk menegaskan maksud daripada aba-aba peringatan/pelaksanaan. Contoh: Kepada Pemimpin Upacara-Hormat – GERAK; Untuk amanat-istirahat di tempat - GERAK

Aba-aba peringatan
Aba-aba peringatan adalah inti perintah yang cukup jelas, untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu. Contoh: Lencang kanan – GERAK (bukan lancang kanan); Istirahat di tempat – GERAK (bukan ditempat istirahat)

Aba-ana pelaksanaan
Aba-aba pelaksanaan adalah ketegasan mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba pelaksanan yang dipakai adalah GERAK, JALAN dan MULAI

GERAK adalah untuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan tanpa meninggalkan tempat dan gerakan-gerakan yang memakai anggota tubuh lain. Contoh : jalan ditempat – GERAK; siap – GERAK; hadap kanan – GERAK; atau lencang kanan – GERAK.

JALAN adalah utuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan dengan meninggalkan tempat. Contoh : haluan kanan/kiri – JALAN; dua langkah ke depan – JALAN; satu langkah ke belakang – JALAN.

Catatan :
Apabila gerakan meninggalkan tempat itu tidak dibatasi jaraknya, maka aba-aba harus didahului dengan aba-aba peringatan – MAJU. Contoh : maju – JALAN; haluan kanan/kiri – JALAN; dan lain-lain.

Tentang istilah: “maju”
Pada dasarnya digunakan sebagai aba-aba peringatan terhadap pasukan dalam keadaan berhenti. Pasukan yang sedang bergerak maju, bilamana harus berhenti dapat diberikan aba-aba HENTI. Contoh : Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju - JALAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK; Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju-JALAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK; dan Balik kana maju/JALAN, karena dapat pula diberikan aba-aba : balik kana henti-GERAK. Tidak dapat diberikan aba-aba langkah tegap maju JALAN, aba-aba belok kanan/kiri maju-JALAN terhadap pasukan yang sedang berjalan dengan langkah biasa, karena tidak dapat diberikan aba-aba langkah henti-GERAK, belok kanan/kiri-GERAK.

Tentang aba-aba : “henti”
Pada dasarnya aba-aba peringatan henti digunakan untuk menghentikan pasukan yang sedang bergerak, namun tidak selamanya aba-aba peringatan henti ini harus diucapkan. Contoh : Empat langkah ke depan –JALAN, bukan barisan – jalan. Setelah selesai pelaksanaan dari maksud aba-aba peringatan, pasukan wajib berhenti tanpa aba-aba berhenti.

MULAI adalah untuk dipakai pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut. Contoh : berhitung – MULAI; tiga bersaf kumpul – MULAI; dan lain-lain.

Cara memberi aba-aba, yakni : Waktu memberi aba-aba, pemberi aba-aba harus berdiri dalam sikap sempurna dan menghadap pasukan, terkecuali dalam keadaan yang tidak mengijinkan untuk melakukan itu; dan Apabila aba-aba itu berlaku juga untuk si pemberi aba-aba, maka pemberi aba-aba terikat pada tempat yang telah ditentukan untuknya dan tidak menghadap pasukan. Contoh : Kepada Pembina Upacara – hormat – GERAK. Pelaksanaanya antara lain; pada waktu memberikan aba-aba mengahdap ke arah yang diberi hormat sambil melakukan gerakan penghormatan bersama-sama dengan pasukan; setelah penghormatan selesai dijawab/dibalas oleh yang menerima penghormatan, maka dalm keadaan sikap sedang memberi hormat si pemberi aba-aba memberikan aba-aba tegak : GERAK dan kembali ke sikap sempurna. Pada taraf permulaan aba-aba yang ditunjukan kepada pasukan yang sedang berjalan/berlari, aba-aba pelaksanaan gerakannya ditambah 1 (satu) langkah pada waktu berjala, pada waktu berlari ditambah 3 (tiga) langkah. Pada taraf lanjutan, aba-aba pelaksanaan dijatuhkan pada kaki kanan ditambah 2 (dua) langkah untuk berjalan / 4 (empat) langkah untuk berlari; Aba-aba diucapkan dengan suara nyaring-tegas dan bersemangat; Aba-aba petunjuk dan peringatan pada waktu pengucapan hendaknya diberi antara; aba-aba pelaksanaan pada waktu pengucapan hendaknya dihentakkan; antara aba-aba peringatan dan pelaksanaan hendaknya diperpanjang disesuaikan dengan besar kecilnya pasukan; bila pada suatu bagian aba-aba diperlukan pembetulan maka dilakukan perintah ULANG !
Contoh : Lencang kanan = Ulangi – siap GERAK


Sumber :
- Pedoman Penyelenggaraan Paskibra - Depdiknas
- Peraturan Baris-berbaris – Pusdiklat TNI-AD

Salam pramuka